Ruwatan

Istilah ‘ruwatan’ berasal dari kata ruwat yang berarti ‘lepas’, merujuk pada tujuan dilakukannya ruwatan, yaitu untuk melepaskan manusia dari segala bentuk sengkala (nasib buruk) dan mala petaka. Dengan demikian, asal mula ruwatan tidak dapat dipisahkan dari sengkala atau kala itu sendiri. Kala (atau Batara Kala) merupakan anak Batara Guru dan Dewi Durga yang konon terlahir dari perbuatan salah atau tidak pada tempatnya.

Dengan tujuan membatasi kekejaman Batara Kala tanpa menjadikannya kelaparan, Batara Guru kemudian hanya mengijinkan anaknya tersebut untuk memakan manusia yang termasuk golongan sukerto. Sukerto adalah pembawaan lahir yang membawa duka, kesialan dan kesedihan dalam hidup. Selain diakibatkan oleh kesalahan yang dilakukan tanpa sengaja, sukerto lebih banyak disebabkan oleh pembawaan sejak lahir. Contohnya anak yang terlahir tunggal atau terlahir pada waktu-waktu tertentu.

Maka tak heran jika banyak orang rela berepot-repot ria melakoni segala ritual atau tirakat dengan ubarampe dan tetek-bengek yang tidak sedikit demi melepaskan status sukerto yang mereka sandang. Bukan hanya lelaku dan keperluan ritualnya saja yang membludak, bacaan yang perlu dilantunkan dalam prosesi ruwatan pun tidak main-main panjangnya. Tembang, kidung atau mantra ruwatan bisa sampai berlembar-lembar. Dalam bahasa yang tidak semua orang bisa memahaminya, pula.

Melihat keadaan ini, tidak heran jika orang seringkali enggan melakukan ruwatan karena ruwetnya segala sesuatu yang mesti dilakukan dan disiapkan. Sebagai solusi, Kami merancang Garam Ruwatan yang tidak hanya praktis, tapi juga telah terbukti manjur merubah nasib sekian banyak orang yang datang kepada beliau untuk mencari solusi dan saran.

Informasi lebih lengkap silakan kunjungi situs kami di www.Ruwatan.com

245 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini